Terlintas di kepala sesaat tentang malu. Malu, ya malu... malu adalah salah satu sifat alamiah makhluk hidup, manusia tentunya. Karena manusia terdiri dari unsur fisik dan psikis, yang “agak” berbeda dengan makhluk hidup lainnya.
Malu... malu... malu....
Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata malu? Kalau aku berpikir bawa malu itu adalah ketika terpeleset di keramaian orang, yang itu berarti semua mata tertuju padamu....
Tapi, apa sih sebenarnya malu itu?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, malu berarti merasa tidak senang (rendah, hina, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat, merasa berkekurangan, dsb. Sedangkan Wikipedia memaparkan bawa Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti beragam, yaitu sebuah emosi, pengertian, pernyataan, atau kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya, dan kemudian ingin ditutupinya. Kedua pengertian tersebut menunjukkan bawa malu adalah sifat yang secara harfiah tidak memiliki bentuk fisik. Tapi sebenarnya ada malu yang berbentuk fisik, yang sering kita sebut dengan Kemaluan.
Hahaha... pembahasan kali ini mungkin terkesan agak cabul ya gaes... tapi di sini kita akan mencoba menguak tentang “kemaluan” yang dirasa agak cabul itu menjadi layak untuk diperbincangkan.
Baiklah, pertama-tama kita harus tahu apa itu kemaluan. Kemaluan, merupakan kata dasar malu yang mendapat imbuhan “ke” dan “an”. Lalu apakah maksud dari imbuhan “ke” dan “an” itu?
“ke” merupakan kata tunjuk. Yang berarti menuju. Seperti contoh, “mau pergi ke mana?”, “mau pergi ke kampus”. Maka makna dari kalimat tersebut menunjukkan “mau pergi menuju mana?”, “mau pergi menuju kampus”. Sedangkan “an” merupakan imbuhan akhiran yang berarti menyatakan tempat, fungsi, dan hasil perbuatan.
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa kemaluan adalah tempat yang menunjukkan fungsi malu. Hal ini juga berarti bawa kemaluan memiliki bentuk fisik. Ya, bentuk fisik yang telah sama-sama kita ketahui tempatnya.
Lalu, kenapa disebut kemaluan? Berdasarkan definisi diatas maka diperoleh jawaban, karena ‘hal yang memiliki bentuk fisik itu’ memiliki tempat yang khusus, dan mempunya fungsi untuk membuat malu terutama pemiliknya. Hal inilah yang membuat orang menutupi kemaluannya.
Kemudian muncul pertanyaan baru. Apakah bisul, kudis, panu, kurap juga merupakan kemaluan? Karena hal itu juga memiliki bentuk fisik dan orang yang memilikinya biasanya menutupi itu. Jika kita masih merujuk pada definisi diatas, maka jawabannya adalah ya. Selama pemiliknya menutup-nutupi dan merasa malu dengan hal itu.
Namun, jika kita tetap merujuk pada definisi diatas, maka hewan adalah makhluk yang tidak memiliki kemaluan? Jawabannya adalah ya, dengan demikian, jika manusia sama sekali tidak memiliki perasaan malu, maka dapat dikatakan manusia itu sama dengan hewan.
Jadi kesimpulannya, “kemaluan” adalah hal yang memiliki bentuk fisik yang membuat kita malu jika diketahui oleh orang lain. So... milikilah “kemaluan” jika masih ingin disebut manusia.
Karena malu merupakan kata sifat, tentunya memiliki lawan katanya. Lawan dari malu adalah percaya diri atau dengan kata lain berani. Jika malu memiliki bentuk fisik yang disebut kemaluan, maka di manakah letak keberanian?.
Tunggu saja kehadirannya di Wong Parit.
Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata malu? Kalau aku berpikir bawa malu itu adalah ketika terpeleset di keramaian orang, yang itu berarti semua mata tertuju padamu....
Tapi, apa sih sebenarnya malu itu?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, malu berarti merasa tidak senang (rendah, hina, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat, merasa berkekurangan, dsb. Sedangkan Wikipedia memaparkan bawa Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti beragam, yaitu sebuah emosi, pengertian, pernyataan, atau kondisi yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya, dan kemudian ingin ditutupinya. Kedua pengertian tersebut menunjukkan bawa malu adalah sifat yang secara harfiah tidak memiliki bentuk fisik. Tapi sebenarnya ada malu yang berbentuk fisik, yang sering kita sebut dengan Kemaluan.
Hahaha... pembahasan kali ini mungkin terkesan agak cabul ya gaes... tapi di sini kita akan mencoba menguak tentang “kemaluan” yang dirasa agak cabul itu menjadi layak untuk diperbincangkan.
Baiklah, pertama-tama kita harus tahu apa itu kemaluan. Kemaluan, merupakan kata dasar malu yang mendapat imbuhan “ke” dan “an”. Lalu apakah maksud dari imbuhan “ke” dan “an” itu?
“ke” merupakan kata tunjuk. Yang berarti menuju. Seperti contoh, “mau pergi ke mana?”, “mau pergi ke kampus”. Maka makna dari kalimat tersebut menunjukkan “mau pergi menuju mana?”, “mau pergi menuju kampus”. Sedangkan “an” merupakan imbuhan akhiran yang berarti menyatakan tempat, fungsi, dan hasil perbuatan.
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa kemaluan adalah tempat yang menunjukkan fungsi malu. Hal ini juga berarti bawa kemaluan memiliki bentuk fisik. Ya, bentuk fisik yang telah sama-sama kita ketahui tempatnya.
Lalu, kenapa disebut kemaluan? Berdasarkan definisi diatas maka diperoleh jawaban, karena ‘hal yang memiliki bentuk fisik itu’ memiliki tempat yang khusus, dan mempunya fungsi untuk membuat malu terutama pemiliknya. Hal inilah yang membuat orang menutupi kemaluannya.
Kemudian muncul pertanyaan baru. Apakah bisul, kudis, panu, kurap juga merupakan kemaluan? Karena hal itu juga memiliki bentuk fisik dan orang yang memilikinya biasanya menutupi itu. Jika kita masih merujuk pada definisi diatas, maka jawabannya adalah ya. Selama pemiliknya menutup-nutupi dan merasa malu dengan hal itu.
Namun, jika kita tetap merujuk pada definisi diatas, maka hewan adalah makhluk yang tidak memiliki kemaluan? Jawabannya adalah ya, dengan demikian, jika manusia sama sekali tidak memiliki perasaan malu, maka dapat dikatakan manusia itu sama dengan hewan.
Jadi kesimpulannya, “kemaluan” adalah hal yang memiliki bentuk fisik yang membuat kita malu jika diketahui oleh orang lain. So... milikilah “kemaluan” jika masih ingin disebut manusia.
Karena malu merupakan kata sifat, tentunya memiliki lawan katanya. Lawan dari malu adalah percaya diri atau dengan kata lain berani. Jika malu memiliki bentuk fisik yang disebut kemaluan, maka di manakah letak keberanian?.
Tunggu saja kehadirannya di Wong Parit.
Wassalam

good. iya udah layak di perbincangkan dah. keep blogging mvlo~
ReplyDeleteZip zip... makasih dah nyempetin mampir ya mvlo...
Delete