Semua orang pasti senang saat menerima sebuah hadiah. Apalagi hadiah itu adalah suatu hal selama ini sangat diidamkan, tentu dengan rasa gembira akan menerima hadiah itu. Nikmatnya seperti "menerima durian runtuh".
Tapi bagaimana saat kita berada pada posisi sebagai sang pemberi? Apkah kita keberatan untuk memberi hal yang sangat diinginkan penerimanya? Jika tak senang memberi, mengapa saat menerima kita malah senang?
Kata pepatah lama, "apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik hasilnya". Jika hal baik yang telah kita berikan, maka hal baik pula yang akan mendatangi kita.
Ngomong-ngomong soal memberi, kenapa kita harus memberi, dan hal yang kita beri adalah hal yang terbaik? Karena kita juga akan menjadi sang penerima, bukankah hal yang terbaik juga yang kita harapkan? Ada kalanya kita yeng memberi bantuan, namun suatu saat kita juga akan mendapatkan bantuan. Bantuan yang tak terduga dan sangat berharga.
Namun demikian adanya, jangan pernah berharap untuk menerima sesuatu saat kita memberikan. Disinilah suatu rasa yang disebut ikhlas akan bermain. Jika rasa ikhlas saat melepaskan itu muncul, maka nikmat yang akan datang untuk kita telah berisap-siap menungg waktu yang tepat untuk menampakkan dirinya, sehingga nikmat itu menjadi sesuatu yang benar-benar nikmat bagi kita yang menerimanaya.
Membayangkan betpa nikmatnya sesuatu yang akan kita terima, tentunya kita harus kembali dalam kenyataan, apa ygn telah kita beri dan seberapa jauh rasa ikhlas kita? Mengingat hal ini, maka berilah sebuah kebaikan bagi penerimanya dengan penuh keikhlasan, tanpa mengingat dan mengungkit apa yang telah kita berikan sebelumnya.
Yakinlah akan ada balasan yang leih baik dari kebaikan yang telah kita beri. Semoga amal baik yang telah kita lakukan diterima di sisi-Nya. :)
Comments
Post a Comment
Silahkan tinggalkan jejak Anda dengan berkomentar yang baik.