Something in Me (mi red)
Berbicara tentang motivasi, saya teringat pada sebuah alasan
akan keinginan untuk mengukir seulas senyuman bangga di wajah kedua insan
tangguh dan mempunyai harapan besar yang ditakdirkan menjadi Orangtua terhebat
bagi saya. Keinginan ini tumbuh berawal ketika saya berada di SMA dan tersadar
dengan jabatan saya sebagai anak yang memikul tanggung jawab untuk
menjadi contoh yang baik bagi adik-adik saya.
Waktu itu, saya tiba-tiba bilang ke mama:
“Ma, mau jadi apa aku besok? Mau
kuliah jurusan apa? Kerja apa?”.
Mama cuma
senyum-senyum dan jawab:
“Terserah kakak lah. Yang penting kakak masih dalam batasan-batasan yang wajar dalam ngelakukan sesuatu. Kakak
kan sudah besar, sudah tau mana yang bagus untuk diri sendiri. Anak yang lebih tua
harus mandiri, bisa jadi contoh untuk adik-adiknya, dan yang paling penting
bisa jadi kebanggaan orangtua”.
Seketika saya terharu dan mau nangis, tapi saya tahan dan
akhirnya tenggorokan pun serasa gondokan.
Singkat cerita, jadilah saya lulus di salahsatu universitas
di Riau dengan pilihan jurusan "ada deh...".
Pada suatu hari, ketika saya masih semester satu, ayah saya
pernah bilang:
“Nak, kau harus rajin belajar,
jaman mu nanti cari kerja itu susah. Dimana-mana standar sudah tinggi. Nanti
kau harus bisa lebih sukses dari ayah mu ini. Memang perempuan itu nanti ngurus
rumah tangga, tapi kau juga harus jadi perempuan yang mandiri dan tidak
bergantung sama apa pun kecuali Allah ta’ala”.
Dan lagi-lagi saya serasa gondokan karena sok tegar menahan
haru.
Semenjak dua percakapan yang akhir-akhir ini membekas dalam
benak saya itu terjadi, saya memiliki tekad yang memang rasanya masih 75%
tingkat konsistensinya, tapi cukup untuk membuat saya lebih punya tujuan dalam
berkuliah dan berorientasi ke depan untuk menjadi seperti apa yang orangtua
saya harapkan.
Original story by: Me
Comments
Post a Comment
Silahkan tinggalkan jejak Anda dengan berkomentar yang baik.