Skip to main content

Kerasan

kerasan


Hal yang paling penting saat menempati suatu keadaan baru adalah 'kerasan'. Tapi, sebelum itu apakah kerasan itu? Kerasan dalam KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) terdiridari 3 suku kata, ke·ra·san yang berati merasa senang, nyaman, dan tahan tinggal di suatu tempat; betah. Sebagai contoh, saya kerasan tinggal di rumah bibi, yang artinya saya merasa nyaman tinggal di rumah bibi.

Dengan definisi tersebut, maka dapat kita terima bahawa dengan kerasan kita akan lebih mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dengan kerasan juga kita akan lebih sehat secara mental, karena kemampuan kita beradaptasi akan mempengaruhi keadaan mental seseorang. Sesuai pepatah lama yang cukup populer yaitu dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Artinya jika tubuh kita sehat maka jiwa kita kuat, begitu pula sebaliknya jika jiwa kita kuat maka akan mempengaruhi kesehatan fisik kita.
Ya, lebih kurang seperti itulah penjelasannya.
Jadi dapat dipastikan bahwa kerasan adalah salahsatu kebutuhan dasar kehidupan. Karena dengan terpenuhinya kerasan, maka akan memudahkan aktivitas lain.
Lebih kurang seperti itulah gambaran betapa pentignya kerasan dalam kehidupab kita.
Disisi lain, sudah barang tentu ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kerasan. Adapun harga itu adalah usaha kita untuk menciptakan suasana kerasan itu sendiri. Usaha yang dapat dilakukan dapat berupa usaha fisik dan psikis. Usaha dengan fisik adalah bagaimana interaksi kita dengan lingkungan, bagaimana pola hidup kita bertetangga, bagaimana pola makan kita, dan lain sebagainya. Sedangan usaha dengan psikis adalah bagaimana kita berpikir untuk kerasan, bagamana kita cara kita menemukan sudut pandang kerasan tersebut.
Setelah kita melakukan melakukan berbagai usaha tersebut, lalu bagaimana cara kita untuk mengetahui apakah kita sudah kerasan atau belum? Atau dengan kata lain apakah indikator kerasan itu?
Sebenarnya cuma ada satu indikator dan sudah sangat populer karena sudah ada sejak zaman dahulu kala.
Hal yang mengindikasikan kita sudah kerasan atau belum adalah 'Eek' (atau lebih dikenal dengan bab) -selanjutnya disebut dengan 'Kerasan'. Iya memang terdengar nyeleneh dan agak sepele. Tapi Anda akan tahu jika sudah merasakannya sendiri. Saya menyebutnya demikian karena sudah merasakannya.
Dengan 'Kerasan' berarti kita sudah kerasan. Dalam posting ini saya membenarkan kalimat tersebut. Penjelasannya sederhana, yaitu untuk dapat 'Kerasan' maka sebelumnya kita harus memiliki usaha fisik dan psikis. Dalam hal ini, usaha fisik yaitu bagaimana cara kita menemukan tempat untuk 'Kerasan', untuk menemukan tempat tersebut tentu saja kita harus menjalin hubungan baik dengan orang sekitar supaya kita dapat 'Kerasan' dengan nyaman. Sedangan usaha psikis dalam hal ini adalah afek atau perasaan atau sikap kita dengan lingkungan dan diri sendiri, pada lingkungan yaitu seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, pada diri sendiri yaitu dengan memuncukan pikiran untuk 'Kerasan' sehingga muncul sensasi khas yang megindikasikan 'Kerasan'.
Yah, begitulah penjelasanku.
Sebenarnya sudah sejak lama aku mikirin tentang keadaan kerasan ini. Namun setelah beberapa waktu berapa di loksi kkn baru terasa sensasinya. Dan kerena itulah aku memberanikan diri untuk menulis ide ini, karena sudah saya rasakan sendiri. Selain itu, lokasi kkn kami sangan mendukung penulisan ide kerasan ini, karena untuk dapat 'Kerasan' disini terlebih dahulu kami harua kerasan secara fisik dan psikis. Sejak saya di lokasi kkn, saya sudah telah 2 kali 'Kerasan', yaitu pada tanggan 5 Juli dan pada tanggal 7 Juli, jaraknya cukul lama sejal kedatangan kami ke lokasi yaitu pada tanggal 1 Juli. Dan sensasinya adalah WOOOW....
yah, cukup sekian coretan kali ini gaes. Pesan untuk para gaes pembaca pandai pandailah beradaptasi dengan lingkungan karena ilmu adaptasi tak diajarkan di kelas di sekolah manapun. Kita yang mencipatakan ilmunya sendiri, maka banyaklah bertanya kepada yang lebih berpengalaman.
That's all guys....
Chaw~

Comments

  1. Jadi kalo udah kerasan eek di suatu tempat berarti kita udah kekrasan?hmm leh uga

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, kata orang sih gitu ulfa...
      tapi ya ini bisa dijadikan salah satu indikatorlah...
      makasih udah mampir ya~

      Delete

Post a Comment

Silahkan tinggalkan jejak Anda dengan berkomentar yang baik.

Popular posts from this blog

Ng-autis dulu ah...

Perbedan itu terlihat nyata, lalu apakah kita akan saling merusak dengan itu? Malam Minggu datang lagi. Tengok kanan tengok kiri, tak ada roti tak ada kopi. Ginilah kalo hidup sendiri. Leptop nyala pegang dua-duanya, satu dikanan satu lagi dikiri. Sambil bengong, lirik juga si elji (hape aku, hahaha), ternyata bunyi. Pas dibuka..... yaaahhhhhh ternyata operator..... tapi gak papalah, memang operator yang paling mengerti kami. Maksud pengambilan judul kali ini bisa sobat baca di akhir posting ini :D

Psikologi Industri Organisasi

Psikologi Industri Organisasi merupakan suatu subdisplin dari ilmu psikologi yang mempelajari perilaku manusia dalam suatu konteks organisasi, apakah organisasi industri ataukah organisasi nirlaba, serta pengaruh timbal balik antara individu dan organisasi tempatnya berkarya. Psikologi Industri Organisasi adalah Ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam perannya sebagai tenaga kerja, Anggota organisasi, konsumen, baik secara individu maupun kelompok untuk kepentingan manusia dan organisasinya (Munandar, 2001).

Cinta Harus Memiliki

"Suatu hari, saya duduk di bangku plastik yang biasa kami duduki saat kuliah. Tiba-tiba dari kejauhan, temanku datang mendekat, lalu mengambil kursi dan duduk disamping tembok pembatas di lantai 2 tembat biasa kami nongkrong. Lalu dia menoleh ke arahku sambil berkata "cinta tak harus memiliki" "loh...!!!" saya kaget. Begitulah lebih kurang ilustrasi saat orang berkata cinta tak harus memiliki. Dan kalimat itulah yang banyak disebut oleh kalangan muda-mudi saat ini. Kenapa? Yah... namanya juga anak muda zaman sekarang, pacaran sana-sini lalu sakit hati, galau deh jatuhnya.