Skip to main content

Ketika Kecabulan Diuji

Ketika Kecabulan Diuji

Sebelum sobat wong parit membaca postingan ink lebih jauh, aku mau nyampein kalo tulisan ini masih didasarkan dari pikiran dangkal. Perlu kecermatan lebih lanjut dari sobat pembaca sekalian :D


Pada dasarnya manusia punya 5 sifat dasar, yaitu senang, sedih, marah, takut, dan jijik (cobak deh tonton film animasi "inside out"). Tapi kita nggak mau ngomongin kelima sifat tersebut. Yang bakal jadi bahasan utama kita adalah cabul, ya cabul.

Cabul itu sifat alami manusia, jadi aku rasa semua orang punya. Kalo mau dihubungan lima sifat dasar yang tadi disebutin, aku menyebut cabul itu adalah sifat turunan dari senang dan jijik. Kenapa? Karena cabul itu menimbulkan kesenangan pada hal yang dianggap "menjijikkan" (hahaha... maksa banget ya pengkorelasiannya)

Tapi, sebenernya cabul itu apa sih? Wikipedia sih bilangnya Cabul adalah keinginan atau perbuatan yang tidak senonoh menjurus ke arah perbuatan seksual yang dilakukan untuk meraih kepuasan diri di luar ikatan perkawinan. Tapi aku bilangnya pengertian ini terlalu kasar, karena ada hal yg lebih sederhana dari itu yang juga disesebut tindakan cabul, misalnya ngelirik dengan tatapan syur. Ya begitulah kira-kira... hahaha... Kalo KBBI sendiri bilangnya cabul itu keji dan kotor; tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan). Jadi, kalo berdasarkan KBBI ngelirik dengan tatapan syur bisa dikatain cabul karena bikin otak lu kotor... hahaha...

Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa cebul adalah sifat alami manusia. Namun setiap orang memiliki tingkat kecabulan yang berbeda-beda, buktinya nggak semua cowok "terlihat" syur ketika nemu cewek sexy lewat. Ya, paling nggak memang begitulah yang terlihat oleh mata. Tapi, apakah yang terlihat itu mencerminkan diri yang sebenarnya?

Terlepas dari semua hal diatas, kita semua tau pepatah lama tentang "jangan menilai buku cuma dari sampulnya". Tapi sayangnya, buku zaman sekarang pada dibungkus rapet, sehingga nggak ada pilihan selain menilai buku itu cuma dari sampulnya. Lagian, penilaian pertama biasanya pada apa yang terlihat, apapun itu objeknya. Jadi mana yang benar? Terserah sobat sekalian mana yang benar... hahaha...

Kembali ke poin utama kita, jadi apakah yang orang yang terlihat cabul benar-benar cabul? dan apakah orang yang nggak terlihat cabul memang nggak cabul?

Kalo menurut pandangan umum (bukan sebagai orang dekat), mungkin jawaban dari keduanya adalah ya. Ya, orang yang terlihat cabul adalah orang cabul dan ya, orang yang nggak terlihat cabul adalah orang yang nggak cabul. Namun jawaban tersebut bisa saja jika dijawab oleh orang yang dekat dengannya. Maka karena hal inilah kecabulan perlu diuji.

Seperti yang kita tau, cara terbaik mengenal sesuatu adalah dengan mendekati sesuatu itu. Sama halnya dengan kecabulan, untuk mengetahui apakah orang itu cabul atau nggak adalah dengan mengenalnya lebih dekat.

Untuk mengetahui sebuah buku itu bagus atau jelek adalah dengan membacanya. Aku pernah diberitahu oleh seseorang, bahwa "kalo kamu pengen tau teman kamu cobalah tinggal sehari dengannya". Ini berarti untuk mengenal baik sesoarang adalah dengan bergaul dengannya sehingga kebiasaannya juga kita ketahui.

Saya mengutip pendapat dari seserong tentang yang turut membahas kecabulan, sebut saja beliau Dekmi. Kalo merutut padangan Dekmi...
"Nggak selamanya orang yg kelihatan cabul itu cabul sebenarnya. Bisa jadi cuman di fisik yang nampak seperti dari perkataan atau tontonannya dia itu cabul padahal sebenarnya, kalo pun dia membayangkan hal-hal tersebut terjadi ke dia, dianya malah merinding bahkan jijik, atau malah cabul nya perkataan dia cuman dimulut, kalo dah tenampak hal cabul dia gelik sendiri dan ndak tahan. Dan orang yg kalem, yg sok baek luarnya, bisa jadi dia adalah yg paling cabul diantar raja cabul."


Ya bigitulah gaes... intinya kita harus selalu berbaik sangka terhadap sesuatu, sepeti yang telah Allah beritahu dan telah Rasullullah ajarkan kepada kita.

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk dalam postingan kali ini... Semoga bermanfaat.

Wassalam

Comments

Post a Comment

Silahkan tinggalkan jejak Anda dengan berkomentar yang baik.

Popular posts from this blog

Ng-autis dulu ah...

Perbedan itu terlihat nyata, lalu apakah kita akan saling merusak dengan itu? Malam Minggu datang lagi. Tengok kanan tengok kiri, tak ada roti tak ada kopi. Ginilah kalo hidup sendiri. Leptop nyala pegang dua-duanya, satu dikanan satu lagi dikiri. Sambil bengong, lirik juga si elji (hape aku, hahaha), ternyata bunyi. Pas dibuka..... yaaahhhhhh ternyata operator..... tapi gak papalah, memang operator yang paling mengerti kami. Maksud pengambilan judul kali ini bisa sobat baca di akhir posting ini :D

Psikologi Industri Organisasi

Psikologi Industri Organisasi merupakan suatu subdisplin dari ilmu psikologi yang mempelajari perilaku manusia dalam suatu konteks organisasi, apakah organisasi industri ataukah organisasi nirlaba, serta pengaruh timbal balik antara individu dan organisasi tempatnya berkarya. Psikologi Industri Organisasi adalah Ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam perannya sebagai tenaga kerja, Anggota organisasi, konsumen, baik secara individu maupun kelompok untuk kepentingan manusia dan organisasinya (Munandar, 2001).

Cinta Harus Memiliki

"Suatu hari, saya duduk di bangku plastik yang biasa kami duduki saat kuliah. Tiba-tiba dari kejauhan, temanku datang mendekat, lalu mengambil kursi dan duduk disamping tembok pembatas di lantai 2 tembat biasa kami nongkrong. Lalu dia menoleh ke arahku sambil berkata "cinta tak harus memiliki" "loh...!!!" saya kaget. Begitulah lebih kurang ilustrasi saat orang berkata cinta tak harus memiliki. Dan kalimat itulah yang banyak disebut oleh kalangan muda-mudi saat ini. Kenapa? Yah... namanya juga anak muda zaman sekarang, pacaran sana-sini lalu sakit hati, galau deh jatuhnya.